Pengarang menekuni kerja sastra dengan peka kata dan cerita. Peka
kata dan cerita ini diperkarakan dalam pertaruhan kualitatif. Pengarang
tak sekadar belanja kata dan cerita melalui transaksi
ekonomis-instrumentalis. Transaksi-estetis terbentuk dari kesadaran
meladeni realitas dengan antusiasme imajinasi. Olahan dalam bahasa
menjadi lahan “pertarungan” untuk menjelmakan cerita. Kata diproduksi
untuk menempuhi jalan panjang dan menata diri dalam konstruksi jagat
pengarang.
Peka. Inilah ungkapan mengena mengenai sosok pengarang dalam buku
cerita Mata Air Air Mata Kumari. Pengarang menempatkan diri sebagai
produsen tapi sadar mekanisme penghadiran cerita. Peka merupakan modal
melakukan serapan dan internalisasi segala sumber cerita. Peka terbentuk
dari pergulatan riil dan kematangan “memasak” imajinasi. Peka
lahiriah-batiniah bukan sekadar perkara pembedaan kadar dan intensitas
tapi perhitungan pelik untuk negasi dan afirmasi atas nama keberimanan
pengarang.
Dengan
membaca kita mencapai pengertian; Dengan melatih diri kita
mencapai pembebasan; Dengan kepercayaan kita mendapat pertolongan; Dengan
pembebasan kita menuju penerangan
Buku ini mengisahkan
mengenai perjalanan hidup tiga anak manusia di bumi Sriwijaya.
Tunggasamudra yang berilmu tinggi namun kerap kehilangan orang-orang
yang dicintainya, Agriya seorang gadis muda yang memiliki tubuh berbau
harum namun tidak bisa mengontrol emosinya hingga sering mendapat
masalah, serta Kara Baday seorang pelaut yang kepatuhannya untuk
menjalankan pesan terakhir orang tua malah menjadikan maut bagi
banyak orang.
Bermula dari Sriwijaya Esai Beni Setia dipublikasikan
di Suara Karya,
Sabtu, 10
April 2010
AWAL dari fiksi berlatar Sriwijaya setebal xiv +
454 halaman ini, lihat Yudhi Herwibowo, Pandaya SriwijayaTTK2 Dendam dan
Prahara di Bhumi Sriwijaya, Sebuah Novel, Bentang Pustaka, September
2009-adalah cinta buta Pramodawardhani, putri pewaris tahta Samaratungga
dan keponakan Balaputradewa, si pemangku estafet trah Sailendra. Yang
memutuskan menikah dengan Jatiningrat, keturunan Sanjaya, hingga kuasa
atas Mataram kuno dan Sriwijaya akan jatuh ke tangan trah Sanjaya,
spontan patriarki bukan milik trah Sailendra lagi...
B First - Bentang Group Desain Sampul : Wilsa Pratiwi Pemeriksa Aksara : Winuling Krismika Ilustrasi Isi : Bendung Penata Aksara : Sih Gagas Speks : 13,5x20,5 cm, 184 hal ISBN : 978-979-24-3856-7 Terbit : November 2009
Bentang Pustaka Penyunting : R. Widada Desain Sampul : Maya Pemeriksa Aksara : Morieen Gloree, Yayan RH. Penata Aksara : Bowo Speks : 13,5x20,5 cm, 452 hal ISBN : 978-979-1227-70-4 Terbit September 2009
Sheila - Andi Group Editor : Benedhicta Rini W Setting : Alex Cover : Erwin D. Susanto Korektor : Suci Nurasih / Aktor Sadewa Speks 12,5x19 cm, 200 hal ISBN : 978-979-29-0650-9 Terbit : Desember 2008
Dulu sebelum saya memulai menulis buku, seorang penulis buku senior pernah berkata di sebuah acara bedah buku, 'sudah berapa banyak kalian membaca buku? Belasan, puluhan atau ratusan? Lalu apa sesuatu yang berlebihan kalau kita membuat satu buku saja, yang kemudian dibaca orang?'